Selasa, 1 Mac 2016

Sumber facebook agar tidak hilang panduan ini...

Sumber Facebook.com


 
Saidina Ali bin Abi Talib RA merumuskan cara-cara untuk melayan anak:-
1. Kelompok pertama 7 tahun (umur 0-7 tahun), melayan anak sebagai raja.
2. Kelompok kedua 7 tahun (umur 8-14 tahun), melayan anak sebagai tawanan.
3. Kelompok ketiga 7 tahun (umur 15-21 tahun), melayan anak sebagai sahabat.
.
► ANAK SEBAGAI RAJA (umur 0-7 tahun)
Melayan anak di bawah umur 7 tahun dengan sepenuh hati dan ikhlas adalah perkara yang terbaik yang boleh kita lakukan. Banyak perkara-perkara kecil yang kita lakukan setiap hari akan berubah mempunyai kesan positif kepada pembangunan tingkah laku anak tersebut, sebagai contoh:-
Jika kita segera menyahut dan mendekati dia ketika dia memanggil kita walaupun ketika kita sibuk, maka dia juga akan segera bertindak balas dan terus pergi kepada kita sewaktu kita memanggilnya.
Di saat kita tidak jemu menggosok belakang badannya sehingga dia tidur, dan tidak mustahil apabila dia mengurut atau mengusap punggung apabila kita letih atau sakit.
Di saat kita berusaha keras menahan emosi pada masa dia telah membuat kesilapan yang besar dalam apa jua bentuk, kita dapat lihat pada masa akan datang dia juga akan bersabar apabila adik-beradik atau rakan-rakannya membuat kesilapan kepadanya.
Oleh itu, apabila kita sentiasa berusaha sepenuh hati untuk menggembirakan
anak-anak yang belum berusia tujuh tahun, Insya-Allah, dia akan membesar menjadi seorang yang menyeronokkan, penyayang dan bertanggungjawab kerana jika kita suka dan melayan mereka sebagai raja, maka dia akan suka dan melayan kita sebagai raja dan ratu.
► ANAK SEBAGAI TAWANAN (umur 8-14 tahun)
Kedudukan tawanan perang dalam Islam adalah sangatlah dihormati. Dia akan mendapat hak dengan kadar tertentu, tetapi juga dikenakan berbagai larangan dan tanggungjawab. Usia 8-14 tahun adalah umur yang sesuai untuk anak-anak diberikan hak, tanggungjawab dan kewajipan tertentu.
Rasulullah SAW mula mengajar anak untuk solat wajib pada usia 7 tahun dan membolehkan kita untuk memukul anak itu (atau mengukum dengan hukuman yang sepatutnya) apabila anak itu berusia 10 tahun jika anak itu tetap meninggalkan solat. Oleh kerana itu, umur 8-14 tahun adalah waktu yang sesuai dan tepat untuk anak-anak diperkenalkan dan diajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan hukum hakam agama, sama ada yang diwajibkan atau dilarang, seperti :-
1. Menunaikan solat wajib lima kali sehari.
2. Memakai pakaian yang bersih, kemas dan menutup aurat.
3. Menjaga pergaulan dengan berlawanan jenis.
4. Membaca Al-Quran.
5. Membantu kerja-kerja rumah yang mudah dilakukan praktikal dengan usia anak.
6. Menerapkan disiplin dalam aktiviti harian. Penghargaan dan Hukuman (hadiah/ganjaran/pujian dan hukuman/teguran) yang sesuai diberikan pada usia 7 tahun kedua ini kerana anak-anak sudah dapat dapat memahami erti tanggungjawab dan sesuatu perbuatan.
Walau bagaimanapun, layanan terhadap setiap anak mestilah berbeza kerana setiap kanak-kanak mempunyai ciri-ciri yang berbeza (kerana setiap anak mempunyai keunikan tersendiri).
► ANAK SEBAGAI SAHABAT (umur 15-21 tahun)
Umur 15 tahun adalah usia umum untuk anak-anak melangkah memasuki usia akil baligh. Sebagai ibu bapa kita harus meletakkan diri kita sebagai sahabat dan memberi contoh yang baik seperti yang diajar oleh Saidina Ali bin Abi Thalib.
Ini adalah masa yang baik untuk bercakap dari hati ke hati dengan dia, menjelaskan bahawa dia adalah seorang remaja yang sudah meningkat dewasa.
Perlu diberitahu tentang perubahan fizikal. Selain itu dia juga akan mengalami perubahan mental, rohani, sosial, budaya dan alam sekitar,sehingga mungkin akan ada banyak masalah yang akan dihadapi. Paling penting untuk kita para ibu bapa bahawa kita harus membina kesedaran dalam diri anak-anak kita bahawa umur selepas akil baligh baligh ini dia sudah mempunyai buku amalannyanya sendiri yang mana dia sendiri yang akan dihadapkan dan dipertanggungjawabkan oleh Allah SWT di hari akhirat kelak.
Anak-anak selepas akil baligh seharusnya diberi lebih ruang supaya mereka tidak merasa terkekang namun masih tetap di dalam pengawasan ibu bapa.
Pengawasan perlu dilakukan tanpa paksaan dan sudah tentu disertakan dengan doa untuk kebaikan dan keselamatan mereka. Oleh itu anak-anak akan berasa dihargai, dihormati, disayangi, dan sangat penting di dalam keluarga. Tambahan pula, mereka akan merasa yakin dan mempunyai personaliti yang kuat untuk sentiasa cenderung untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri daripada tingkah laku yang tidak baik.
Memberikan kepercayaan kepada anak-anak dengan tanggungjawab yang lebih berat. Sewaktu usia 15- 21 tahun ini adalah sangat penting bagi kita ibu bapa untuk memberikan tanggungjawab yang lebih berat dan lebih besar supaya masa depan anak-anak boleh menjadi lincah, bebas, bertanggungjawab dan boleh dipercayai.
Contoh tanggungjawab yang harus diberikan pada usia ini adalah seperti meminta beliau untuk membimbing adik-beradik, memberikan kerja-kerja yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa atau menyediakan jadual aktiviti serta menguruskan kewangan sendiri.
Semoga Allah SWT memberikan kita anak-anak yang soleh dan berbakti kepada ibu bapa dan masyarakat.
.
"Ya Rabbku, beri­lah kepadaku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya engkau adalah Maha Mendengar Doa." (Al-Quran, Ali Imran: 38).
******
Sumber: FP Alhabib Quraisy Baharun

Isnin, 29 Februari 2016

Bab 15. Berdiri karena jenazah

Bab 15. Berdiri karena jenazah
( HR.MUSLIM No:1590 )
        Hadis riwayat Amir bin Rabiah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila kalian melihat iringan jenazah, maka berdirilah menghormatinya sampai iringan jenazah itu lewat meninggalkan kalian atau sampai diletakkan dalam kubur.
( HR.MUSLIM No:1591 )
        Hadis riwayat Abu Said ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila kalian mengiringi jenazah, maka janganlah kalian duduk sebelum jenazah itu diletakkan.
( HR.MUSLIM No:1593 )
        Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: Ada iringan jenazah lewat, lalu Rasulullah saw. berdiri menghormatinya dan kami ikut berdiri bersama beliau. Kemudian kami berkata: Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah Yahudi. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kematian itu menggetarkan, maka jika kalian melihat iringan jenazah, maka berdirilah.
( HR.MUSLIM No:1596 )
        Hadis riwayat Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra.: Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia?

12. Kitab Jenazah

12. Kitab Jenazah
Bab 1. Meratapi mayit
( HR.MUSLIM No:1531 )
        Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata: Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika seorang di antara putri beliau menyuruh seseorang memanggil beliau dan memberi kabar bahwa anak putri beliau itu sedang menghadapi maut, Rasulullah saw. bersabda kepada utusan tersebut: Kembalilah dan kabarkan kepadanya bahwa apa yang Allah ambil dan Allah berikan adalah milik-Nya semata. Segala sesuatu di sisi-Nya adalah dengan batas waktu tertentu. Suruhlah ia untuk bersabar dan mengharap pahala. Utusan itu kembali dan berkata: Dia berjanji akan memenuhi pesan-pesan itu. Lalu Nabi saw. berdiri diikuti oleh Saad bin Ubadah dan Muadz bin Jabal. Aku pun (Usamah bin Zaid) ikut berangkat bersama mereka. Kepada Rasulullah saw. anak (dari putri beliau) diserahkan dan jiwanya bergolak seperti berada dalam qirbah (tempat air) tua. Kedua mata Rasulullah saw. menitikkan air mata. Lalu Saad bertanya: Apa arti air mata itu, ya Rasulullah? Rasulullah saw. bersabda: Ini adalah rahmat (kasih sayang) yang diletakkan Allah dalam hati para hamba-Nya. Sesungguhnya Allah mengasihi para hamba-Nya yang pengasih.
( HR.MUSLIM No:1532 )
        Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Saad bin Ubadah mengalami sakit keras, lalu Rasulullah saw. menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Masud. Ketika beliau tiba, beliau mendapatinya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Rasulullah saw. bertanya: Apakah ia telah meninggal dunia? Orang-orang yang hadir di sana menjawab: Belum, ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw. menangis. Ketika para sahabat melihat tangis Rasulullah saw., mereka ikut menangis. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Tidakkah kalian mendengar bahwa sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena air mata dan atau karena kesedihan hati. Tetapi Dia menyiksa atau mengasihi sebab ini. Beliau menunjuk ke lidah beliau (maksudnya karena ratapan yang diucapkan lidah karena menolak qada dan takdir Allah atas si mayit).
Bab 2. Kesabaran adalah pada awal tertimpa musibah
( HR.MUSLIM No:1534 )
        Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sabar itu pada awal kejadian.
Bab 3. Mayit disiksa karena ratapan (penyesalan) keluarganya
( HR.MUSLIM No:1536 )
        Hadis riwayat Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya mayit akan disiksa karena tangis ratapan (penyesalan) keluarganya. 
 

 

14. Kitab Puasa

14. Kitab Puasa
Bab 17. Puasa pada hari Asyura'
( HR.MUSLIM No:1912 )
        Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata: Has.ri Asyura' adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura' tersebut.
( HR.MUSLIM No:1910 )
        Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari Asyura'. Ketika ditanyakan tentang hal itu, mereka menjawab: Hari ini adalah hari kemenangan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Musa as. dan Bani Israel atas Firaun. Karena itulah pada hari ini kami berpuasa sebagai penghormatan padanya. Mendengar jawaban itu Rasulullah saw. bersabda: Kami lebih berhak atas Musa dari kalian, maka beliau menyuruh para sahabat untuk berpuasa.
( HR.MUSLIM No:1909 )
        Hadis riwayat Muawiyah bin Abu Sufyan ra.: Dari Humaid bin Abdurrahman bahwa ia mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan berpidato di Madinah pada hari Asyura' ketika ia berkunjung ke kota tersebut. Ia bertanya: Di manakah ulama-ulama kalian, wahai penduduk Madinah? Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda tentang hari ini. Hari ini adalah hari Asyura' dan Allah tidak mewajibkan kalian melaksanakan puasa pada hari ini, tetapi aku berpuasa. Maka barang siapa di antara kalian ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa di antara kalian ingin berbuka, maka silakan tidak puasa.
( HR.MUSLIM No:1901 )
        Hadis riwayat Abdullah Ibnu Umar ra.: Bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu selalu berpuasa pada hari Asyura'. Dan bahwa Rasulullah saw. dan kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkan puasa bulan Ramadan. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya hari Asyura' adalah hari-hari Allah, maka barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah pada hari itu dan barang siapa yang tidak ingin, maka ia boleh meninggalkannya.
( HR.MUSLIM No:1897 )
        Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Adalah kaum Quraisy pada zaman Jahiliyah selalu berpuasa pada hari Asyura' dan Rasulullah saw. juga berpuasa pada hari itu. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabat untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkan puasa bulan Ramadan, beliau bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah dan barang siapa yang tidak ingin berpuasa, maka ia boleh meninggalkannya.