Isnin, 6 April 2026

 

Sunday, 6 July 2025

Shalat adalah ibadah utama dalam Islam yang memiliki syarat dan aturan yang harus dijaga

 Shalat adalah ibadah utama dalam Islam yang memiliki syarat dan aturan yang harus dijaga. Namun, ada sejumlah hal yang bisa membatalkan shalat jika dilakukan, baik karena sengaja maupun lalai. Mempelajari pembatal shalat adalah bagian penting agar ibadah kita tidak sia-sia di hadapan Allah.

Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah berkata dalam Matan Taqrib,

وَالَّذِي يُبْطِلُ الصَّلَاةَ أَحَدَ عَشَرَ شَيْئًا

ٱلْكَلَامُ الْعَمْدُ، وَٱلْعَمَلُ ٱلْكَثِيرُ، وَٱلْحَدَثُ، وَحُدُوثُ ٱلنَّجَاسَةِ، وَٱنْكِشَافُ ٱلْعَوْرَةِ، وَتَغَيُّرُ ٱلنِّيَّةِ، وَٱسْتِدْبَارُ ٱلْقِبْلَةِ، وَٱلْأَكْلُ، وَٱلشُّرْبُ، وَٱلْقَهْقَهَةُ، وَٱلرِّدَّةُ.

Ada sebelas hal yang membatalkan shalat:

1. Berbicara dengan sengaja,

2. Melakukan gerakan yang banyak,

3. Berhadats,

4. Terkena najis,

5. Terbukanya aurat,

6. Berubahnya niat,

7. Berpaling dari arah kiblat,

8. Makan,

9. Minum,

10. Tertawa terbahak,

11. Keluar dari Islam (riddah).

 

Penjelasan

1. Berbicara dengan sengaja

Yaitu ucapan yang disengaja dan dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama manusia, baik berkaitan dengan kepentingan shalat maupun tidak.

Dalam hadits disebutkan,

كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِي الصَّلَاةِ، يُكَلِّمُ أَحَدُنَا أَخَاهُ فِي حَاجَتِهِ، حَتَّى نَزَلَتْ هٰذِهِ الْآيَةُ:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Dahulu, kami biasa berbicara dalam salat. Salah seorang dari kami berbincang dengan saudaranya tentang kebutuhannya. Hingga akhirnya turunlah ayat ini:

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238). Kami lantas diperintahkan untuk diam. (HR. Bukhari, no. 4260 dan Muslim, no. 539 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu). Catatan: “qanitin” artinya adalah “dalam keadaan tunduk dan khusyuk”.

Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ هٰذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya dalam shalat ini tidak pantas ada ucapan manusia. Yang ada hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 537)

Kedua dalil ini menegaskan bahwa berbicara dengan sengaja dalam shalat termasuk perkara yang membatalkan shalat, karena shalat merupakan ibadah khusus antara hamba dan Rabb-nya, yang tidak boleh dicampuri dengan urusan duniawi.

Penyebutan “dengan sengaja” dalam konteks ini bermaksud mengecualikan orang yang lupa, atau orang yang belum tahu bahwa hal itu dilarang karena baru masuk Islam. Demikian pula orang yang secara spontan mengucapkan sesuatu tanpa niat dan ucapannya tidak panjang, maka shalatnya tidak batal. Begitu juga jika tertawa secara tidak terkendali, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

رُفِعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأُ، وَالنِّسْيَانُ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Umatku dimaafkan ketika melakukan karena keliru, lupa, dan dipaksa.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya).

Namun, jika seseorang dipaksa untuk berbicara dalam shalat, maka shalat tetap batal menurut pendapat yang paling kuat. Hal ini karena kasus seperti ini jarang terjadi, dan penjelasannya telah dibahas dalam syarat-syarat sahnya shalat.

2. Melakukan gerakan yang banyak

Yakni gerakan tubuh yang banyak dan berturut-turut seperti tiga langkah atau lebih, baik dilakukan dengan sengaja ataupun karena lupa.

Adapun gerakan yang banyak, seperti tiga langkah berturut-turut, atau pukulan yang jelas-jelas tidak ringan, maka itu membatalkan shalat. Tidak ada perbedaan antara dilakukan dengan sengaja atau karena lupa, sebagaimana ditegaskan oleh Imam An-Nawawi. Dasarnya adalah ijmak (kesepakatan ulama), karena gerakan yang banyak mengubah struktur shalat dan menghilangkan kekhusyukan, padahal kekhusyukan adalah inti dari ibadah shalat.

Dari penjelasan para ulama, disimpulkan bahwa gerakan ringan tidak membatalkan shalat, karena gerakan kecil bisa dimaklumi dalam kondisi tertentu. Selain itu, menjaga satu keadaan terus-menerus itu berat dilakukan, berbeda dengan ucapan yang bisa ditahan, karena itu shalat bisa batal hanya dengan satu kata, tapi tidak batal hanya karena satu langkah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang menyentuh kerikil saat shalat:

إِنْ كُنْتَ فَاعِلًا فَوَاحِدَةٌ

“Kalau kamu memang harus melakukannya, maka sekali saja.” (HR. Muslim)

Beliau juga memerintahkan untuk menyingkirkan orang yang lewat di depan (saat shalat), membunuh ular dan kalajengking, dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memutar orang dari kiri ke kanan, serta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencubit kaki sahabat saat sujud, dan memberi isyarat kepada Jabir radhiyallahu ‘anhu. Semua ini diriwayatkan dalam hadits-hadits sahih.

3. Berhadats

Jika seseorang berhadats saat shalat (hadats kecil maupun besar), maka shalatnya batal, baik sengaja maupun lupa, apakah dia sudah tahu atau belum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلْيَنْصَرِفْ، فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُعِدْ صَلَاتَهُ

“Jika salah seorang dari kalian kentut saat shalat, maka hendaknya ia membatalkan shalat, berwudhu, dan mengulang shalatnya.” (HR. Abu Daud dan lainnya)

4. Terkena najis

Jika seseorang sengaja membiarkan najis yang tidak dimaafkan mengenai dirinya, maka shalatnya batal. Namun, jika najisnya dimaafkan—seperti membunuh kutu atau serangga kecil lainnya—maka tidak membatalkan shalat karena darahnya dimaafkan, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Bandaniji.

Jika najis mengenai dirinya dan langsung dibersihkan (sebelum terlewat kadar minimal thumakninah), misalnya dengan menepisnya, maka shalat tidak batal karena sulitnya menghindari hal semacam itu dan tidak ada unsur kelalaian dari pihaknya. Ini berbeda dengan hadats, karena menjaga kesucian memerlukan waktu yang cukup.

5. Terbukanya aurat

Adapun jika aurat terbuka dengan sengaja, maka shalatnya batal meskipun segera ditutup kembali. Karena menutup aurat adalah syarat sah shalat, dan ketika ia membukanya dengan sengaja, maka sama saja dengan membatalkan shalat. Namun, jika aurat terbuka karena angin, lalu segera ditutup kembali (sebelum terlewat kadar minimal thumakninah), atau tali kain terlepas lalu segera dibetulkan, maka shalatnya tidak batal, sebagaimana dijelaskan dalam masalah najis tadi.

6. Berubahnya niat

Yaitu ketika seseorang berniat keluar dari shalat. Hal ini membatalkan karena niat adalah pengikat utama dalam shalat. Jika niat terputus, maka terputus pula ibadahnya.

Dalam masalah niat, ada beberapa rincian:

Pertama, jika seseorang memutuskan niat dalam shalat—misalnya ia berniat keluar dari shalat—maka shalatnya batal secara ijmak (kesepakatan ulama). Sebab, keberlangsungan niat merupakan syarat sah shalat, dan jika niat terputus, maka hilang pula pengikatnya. Hal ini berbeda dengan puasa, yang tidak batal hanya karena niat keluar, karena puasa termasuk bentuk meninggalkan sesuatu, bukan aktivitas fisik yang terus menerus seperti shalat.

Kedua, jika seseorang memindahkan niatnya dari satu shalat wajib ke shalat wajib lainnya, atau dari shalat wajib ke shalat sunnah, maka menurut pendapat yang paling sahih, shalatnya batal. Bahkan sebagian ulama secara tegas menyatakan batal.

Ketiga, jika seseorang bertekad untuk memutus shalat, misalnya pada rakaat pertama ia sudah berniat akan menghentikan shalat pada rakaat kedua, maka shalatnya batal saat itu juga. Karena kelanjutan niat adalah bagian dari syaratnya.

Keempat, jika seseorang ragu apakah akan melanjutkan shalat atau keluar darinya, maka shalatnya juga batal. Sebab, keberlangsungan niat yang menjadi cukup dalam shalat telah hilang karena keraguan ini. Imam al-Haramain mengatakan: “Aku tidak melihat adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.” Namun, keraguan yang sekadar terlintas di pikiran karena waswas, seperti yang terjadi pada orang yang sering ragu-ragu, maka tidak membatalkan shalat.

7. Berpaling dari arah kiblat

Jika seseorang membelakangi kiblat dalam shalat, maka shalatnya batal, sebagaimana jika ia berhadats. Karena syarat yang telah ditetapkan tidak terpenuhi.

8. Makan

9. Minum

10. Tertawa terbahak

Makan dan minum, karena jika puasa saja batal karenanya, padahal puasa tidak batal karena gerakan, maka shalat—yang lebih banyak gerakannya—lebih layak batal. Juga karena makan menunjukkan sikap berpaling dari ibadah, padahal tujuan dari ibadah fisik seperti shalat adalah memperbarui keimanan dan mengarahkan hati kepada Allah.

Ini jika dilakukan dengan sengaja. Namun jika lupa atau tidak tahu karena baru masuk Islam, maka tidak membatalkan, sebagaimana halnya puasa.

Bila yang dimakan sangat sedikit, maka tidak membatalkan. Qadhi Husain menyebutkan: “Jika yang dimakan kurang dari sebutir wijen, tidak membatalkan shalat.” Namun jika seukuran biji wijen atau lebih, terdapat dua pendapat, yang paling sahih: batal.

Minum disamakan dengan makan.

Tertawa terbahak membatalkan shalat jika disengaja, karena bertentangan dengan kekhusyukan dalam ibadah. Ini jika suara tertawanya jelas terdengar sampai dua huruf atau lebih. Jika tidak terdengar, maka tidak membatalkan karena tidak termasuk kategori “ucapan” (kalam).

11. Keluar dari Islam (riddah)

Riddah juga membatalkan shalat, karena secara otomatis membatalkan keislaman.

Contoh riddah dalam shalat:

  • Perbuatan, seperti sujud kepada berhala atau matahari.
  • Ucapan, seperti mencela Allah atau agama.
  • Keyakinan, seperti berpikir bahwa alam ini qadim (tidak diciptakan) lalu mempercayainya, atau meyakini bahwa shalat tidak wajib—maka kufur dan shalatnya batal.

Jangan anggap sepele gerakan, ucapan, atau niat saat shalat. Ketahui dan hindari hal-hal yang membatalkannya agar ibadah kita sah dan diterima. Mari jaga shalat dengan benar, penuh kekhusyukan dan ilmu.

 

Referensi:

  • Al-Bajuri, I. b. M. b. A. (2020). Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh al-Allamah Ibn Qasim al-Ghazzi ‘ala Matn Abi Syuja’. Jeddah: Dar al-Minhaj.
  • Al-Ghazzi, M. b. Q. (2023). Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfazh at-Taqrib. Cairo: Dar Dhiya’.
  • Al-Hishni, M. b. ‘A. M. (2007). Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar. Jeddah: Dar al-Minhaj.
  • Al-Kamil Hamid, H. (2011). Al-Imta’ bi Syarh Matn Abi Syuja’ fi al-Fiqh asy-Syafi’i. Cairo: Dar al-Manar.

________

Ditulis pada Kamis sore, 25 Syawal 1446 H, 24 April 2025 di Darush Sholihin

Penulis: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal 

Ahad, 5 April 2026

Mengapa Muhammad begitu mencintai Khadijah.

 Singapore...Kau ketemu ini...Kau seolah2 tahu aku sedih baca ini...airmataku gugur kerana Teks ini,..Tq tq Singapore...Ini adalah cerita sedeh Nabi...Aku macam paham sedehnya Nabi...

Thursday, 22 January 2026

Mari kita baca buku ni.. Interested daku dgn topik ni...

 "Ini Kisah isteri pejuang yang tidak sempat bersenang dengan kemenangan.  Dia bersusah-susah ketika suaminya susah.  Isteri, yang sangat dicintai"





Mengapa Muhammad Begitu Cintakan Khadijah?
Sedap kan tajuk buku ni ...Buat aku terpukau dan daku order untuk beri hadiahkepada mereka yg dekat dgnku.   



Bayangkan Cinta Seorang Nabi yang di miliki oleh Khadijah.
MasyaaAllah.  Bertuah betul Khadijah kan!
Allah pon pernah kirim salam kepada Khadijah 
 dan Khadijah Jawab salam dari Allah dgn 
Allahhummaan tassalam waminkassalam, tabarak taya zaljalalilwal ikram..

 

Wanita terbaik pada Zaman itu.
Rasullullah tak berpoligami bersama Khadijah.
MaasyaaAllah. Bertuah sungguh Khadujah.

















1.  CINTA PERTAMA

Mungkin Rasullullah bukan cinta pertama Khadijah tapi Khadijah adalah cinta pertama Rasullullah SAW.

Baginda tidak pernah berkasih dengan sesiapapon sebelum ini.  Baginda tidak pernah bermain cinta, bahkan berkahwin dengan sesiapapun.

Perasaan kasih dan cinta seorang pemuda itu belum pernah dirasai oleh Nabi Muhammad.  Itulah kali pertama baginda merasainya.

Bahkan, curahan cinta pertama itu pula begitu membahagiakan.  Cinta yang sempurna dan tulus.

Tidak boleh dimungkiri lagi bahawa memang cinta pertama sangat sulit untuk di lupakan.

Seorang penyair Arab bernama  Abu Tamam bermadah: 
Pindahkanlah hatimu kepada siapa saja yang engkau mahu, namun kecintaan (sejati)  hanyalah untuk kekasih yang pertama. 

Betapa banyak tempat di bumi yang sudah ditinggalkan seorang pemuda, namun selama-lamanya kerinduannya selalu kepada tempat yang pertama  ia tiba. 



Setelah wafatnya Khadijah , Kecintaan Nabi Tetap melekat di hati beliau.  Beliau masih tetap sering menyebut2-nyebut kebaikan Khadijah.

Bahkan beliau memberi kan hadiah kepada sahabat2 Khadijah RA, sehingga seolah2 tidak ada wanita yang lebih baik di dunia ini melainkan Khadijah.

Aisyah tidak pernah cemburu kepada isteri2 Nabi yang lain sebagaimana kecemburuannya kepada Khadijah, padahal  Khadijah telah meninggal dunia.

Seorang wanita cemburu kepada wanita yang telah meninggal dunia?

Tidak lain melainkan kerana begitu cintanya Nabi SAW kepada cinta pertamanya iaitu Khadijah - meskipon telah tiada.

Aiayah RA bertutur:
Nabi Sallallahu álaihi wa sallam jika menyebut tentang Khadijah maka ia memujinya dengan pujian yang sangat indah,. Pada suatu hari aku pon  cemburu kemudian aku berkata, "Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua.  Allah Allah telah menggantikan nya buatmu  dengan wanita yang lebih baik darinya.  ".  Maka Nabi berkata"Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapon yang lebih baik darinya.   Ia telah beriman kepadaku ketika orang2 kafir ...... kepadaku diatelah membenarkan aku ketika orang2 mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah meanugerahkan darinya anak-anak  ketika Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain"
                                                                     (HR  Ahmad)

Hadith ini sebagai satu isyarat yang menunjukkan bahawa Aisyah itu sebagaimana wanita2 lainnya, bersifat pencemburu.  Suatu hal yang wajar apabila seorang isteri cemburu dengan wanita lain.



Kisah kalung Khadijah yang di berikan kepada Zainab anaknyapon menyedihkan juga .

Zainab memberikan kalung yg diberioleh ibunda nya untuyk menebus suaminya Abul Ásh.   Ketika Nabi SAW mrelihat kalung tersebut Nabi sangat bersedih mengingatkan keadaan anaknya Zainab yang bersendirian di Mekah. , dan juga sangat sedih kerana mengingat kembali cinta pertamanya Khadijah RA dan bagaiman kesetiaan isterinya tersebut.
  
Kerana kalung tersebut dahulu adalah milik Khadijah dan dipakai oleh Khadijah di lehernya.  

Kalung tersebut mengingatkan beliau kepada Khadijah yang sangat dicintainya yang merupakan ibu dari anak-anaknya.



Tidak ada lelaki yang di suruh mencari wanita sesempurna khadijah.  Demikianlah juga tidak ada wanita yang boleh dipaksa menjadi Khadijah kedua. 

Tetapi setiap kita perlu bersikap sepertimana Khadijah.  Meneladaninya dalam kehidupan dakwah dan rumahtangga.

Sehingga akhirnya , kita juga mendapat tempat serupa sepertimana Khadijah.

WallahuAlam.


Penulis:  Syihabudin Ahmad
Kemaskini terakhir : 19 Disember 2019.

Tuntunku KepadaMu - " Mati itu Pasti"

Assalamualaikum! 

Terimakasih kerana mengingatkan daku kepada kematian. Daku dah dekat dah...TQ daku sedar.

Terkena pula saat daku menghadapi kematian sahabat.   Besar makna, lagu ini buatku.

" Mati itu Pasti"   Peringatan  kerana Allah ini ku susuli dgn ucapan  Arrigato 2 U.

 Baca apa yang ku tulis kerana ianya sangat bersesuaian dgn petikanku.  Thanks.


Maher Zain - Tuntunku KepadaMu (Guide Me All The Way) - Bahasa Version | Official Lyric Video


Tuesday, 24 September 2024

Amalan Terbaik di Ujung Usia | Ustadz Ammi Nur Baits



Saturday, 23 August 2025

GAMBARAN HINANYA DUNIA - Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah...


Wednesday, 4 March 2026

05-03-2026 SS Prof Dato Dr Maza : Jantung Hati Boleh Keras Melebihi Batu



Sunday, 26 October 2025

DrMAZA-Doa iktidal|Perkataan hambaNya yg paling benar..(Ulang lagi)


Monday, 5 January 2026

Pesan Nabi: Jangan tinggal 3 ini...


Saturday, 28 March 2026

DENGARLAH GEMALA HATI 8.10AM

 DENGARLAH GEMALA HATI    8.10AM

Monday, 23 March 2026

 


 

Saturday, 23 August 2025

GAMBARAN HINANYA DUNIA - Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah...

Kembalinya sahabatku ke rahmatullah.Permudahkanlah sakaratulmaut kami Rabbku.

 


Assalamualaikum...
Hari ini dapat khabar duka, ada kematian ia itu,  seorang lagi sahabatku telah kembali kerahmatullah.   "Innalillahhiwainnailai hi raajiuun."  Daripada Allah kita datang dan kepadaNyalah kita akan kembali. "  Dengan jemputan allah itu, daku berdoa agar sahabatku itu dikumpulkan Allah bersama orang2 yang soleh.

  Bila perkhabaran ini ku terima daku dapat rasakan bahawa betapa dekatnya sudah kematian menghampiriku dan mereka yang seusiaku  terutama  saudara maraku.   Meskipon kematian tidak mengenal usia,  tapi  "KEMATIAN ITU PASTI"  Ya Rabb. Kau jadikanlah hambaMU ini sering mengingati mati.  Daku berharap agar Allah ingatkan kita  selalu bahawa kematian itu sentiasa menjenguk kita  hari demi hari. 

Entah berapa kali malikalmaut datang menjenguk kita  dalam sehari.   Cuma menunggu masa dan waktu Allah arahkan agar  dicabut nyawa  dpd jasad kita.  " MaasyaaAllah."  Permudahkanlah kami- RabbKu.  Permudahkanlah sakaratulmaut  kami  Rabbku.
" Allahhumahauwinalaina fi sakaratulmaut" 

Ya Rabbku...Elakkanlah daku merugikan masa , anugerahkanlah kami " masa yang bermanfaat"  kenikmatan untuk kami mengingati, peri pentingnya waktu  yang ada pada kami ini.  Kau jadikanlah kami  sentiasa bersyukur terhadap ketentuanMu atas diri kami  ini.  Ulitilah kami  dengan SABAR dan REDHO dalam menjalani hidup ini.  Basahkanlah lidah kami  selalu dalam menyebut namaMu. Ingatkanlah kami  selalu berselawat kepada Rasul KekasihMu Rabbku.  

Rabbku...Kau jadikanlah kami bersyukur dengan apa yang kami ada  ini,  permudahkanlah perjalanan hidup sehariankami. JanganKau jadikan kami mengejar  dunia semata  dan Kau penuhi  hidup kami dengan rasa "cukup dan puas",   cukup  (seadanya)  dgn rezeki yg Kau anugerahkan ini.  

Aku sedari Rabbku...sihatku juga adalah "rezekiku" yg patut ku syukuri  begitu juga dalam memanfaatkan masaku kerana "masa"  juga selalu menipu kami, hamba2Mu semua, terutama daku yang selalu alpa.  Jangan Kau lalaikan kami dalam menangani masa yang ada ini, jadikanlah masa itu dapat kami gunakan  dengan sebaik2nya dengan beramal kepadaMu. 

Tuhanku...Kau sedarkan aku dengan kesedihan itu sebagai pengubat hati ini untuk lebih dekat padaMu.  Daku sedar Rabbku dengan duka, sedih, sepi, ini mendekatkan aku padaMu.  Redhokanlah aku dan sabarkanlah aku, wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  
Aamiin Ya Rabbala'lamin